WABAH CHIKUNGUNYA
YANG SEDANG MELANDA NIAS
Oleh : Onlyhu Ndraha
Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Kab. Nias
Dan Wartawan Deli Pos
Pertengahan tahun ini, pulau Nias dikagetkan dengan sejenis penyakit baru. Menurut masyarakat jenis penyakit ini merupakan wabah dan sangat panik untuk mengantisipasinya. Gejala yang dialami oleh masyarakat seperti demam , sakit persendian, nyeri otot, bercak kemerahan pada kulit, kejang dan penurunan kesadaran, manifestasi perdarahan dan adanya gejala-gejala lain. Wabah ini hampir seluruh desa di pulai Nias mengalaminya.
Wabah yang sedang terjadi di pulau Nias sebenarnya bukan merupakan penyakit yang baru ada melainkan sudah terjadi sekitar tahun 1779 di Batavia dan Kairo, 1823 di Zanzíbar, 1824 di India, 1901 di Hongkong, Burma dan Madras serta 1923 di Calcuta. Penyakit ini ditularkan oleh virus Chikungunya. Virus Chikungunya adalah Arthopod Borne yang ditransmisikan oleh beberapa spesies nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Dari hasil uji Hemaglutinasi Inhibisi dan uji Komplemen Fiksasi, virus ini termasuk Genus Alphavirus (“grup A” Arthopod-borne viruses) dan famili dari Togaviridae. Sedangkan Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh (“group B” Arthopod-borne virases atau flash virus). Dan dari tahun 2000-2007 di Indonesia terjadi kejadian luar biasa Chikungunya pada hampir semua propinsi dengan 18.169 kasus tanpa kematian. Penyebab penyakit Chikungunya biasanya terjadi pada daerah endemis Demam Berdarah Dengue. Banyaknya tempat perindukan nyamuk sering berhubungan dengan peningkatan kejadian penyakit Chikungunya.
Ada tiga faktor yang memegang peranan dalam penularan penyakit Chikungunya, yaitu manusia, virus dan vaktor perantara. Virus Chikungunya ditularkan kepada manusia melalui digitan nyamuk Aedes Aegypti atau Aedes Albopictus. Nyamuk Aedes tersebut dapat mengandung virus Chikungunya pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum demam sampai 5 hari estela demam timbul. Kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada saat digitan berikutnya. Di tubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 4-7 hari (intrisic incubation period) sebelum menimbulkan penyakit.
Dari gejala yang ditimbulkan penyakit Chikungunya seperti :
Demam
Pada fase akut selama 2-3 hari selanjutnya dilanjutkan dengan penurunan suhu tubuh selama 1-2 hari kemudian naik lagi membentuk kurva “sadle back fever” (Bafasik). Bisa disertai menggigil dan muka kemerahan (flushed face). Pada beberapa penderita mengeluh nyeri dibelakang bola mata dan bisa terlihat mata kemerahan (conjunctival injection).
Sakit Persendian
Nyeri persendian ini sering merupakan keluhan yang pertama muncul sebelum timbul demam. Nyeri sendi dapat ringan (arthralgia) sampai berat menyerupai artritis rheumathoid, terutama di sendi-sendi pergelangan kaki/tangan sering dikeluhkan penderita. Nyeri sendi ini merupakan gejala paling dominan, pada kasus berat terdapat tanda-tanda radang sendi, yaitu kemerahan, kaku, dan bengkak. Sendi yang sering dikeluhkan adalah pergelangan kaki, pergelangan tangan, situ, jari lutut, dan pinggul. Pada posisi berbaring biasanya penderita miring dengan lutut tertekuk dan berusaha mengurangi dan membatasi gerakan. Arthitis ini dapat bertahan selama beberapa minggu, bulan bahkan ada yang sampai bertahan beberapa tahun sehingga dapat menyerupai Rheumatoid Arthritis.
Bercak Kemerahan (Rash) pada Kulit
Kemerahan di kulit bisa terjadi pada seluruh tubuh berbentuk makulo-papular (viral rash), sentrifugal (mengarah ke bagian anggita gerak, telapak tangan dan telapak kaki). Bercak kemerahan ini terjadi pada hari pertama demam, tetapi lebih sering muncul pada hari 4-5 demam. Lokasi kemerahan di daerah muka, badan, tangan dan kaki.
Kejang dan Penurunan Kesadaran
Kejang biasanya pada anak karena demam yang terlalu tinggi, jadi kemungkinan bukan secara langsung oleh penyakitnya. Kadang-kadang kejang disertai penurunan kesadaran. Pemeriksaan cairan spinal (cerebro Spinal) tidak ditemukan kelainan biokimia atau jumlah sel.
Manifestasi Perdarahan
Tidak ditemukan perdarahan pada saat awal perjalanan penyakit walaupun pernah dilaporkan di India terjadi perdarahan gusi pada 5 anak dari 70 anak yang diobservasi. Dan gejala lain yang mungkin terjadi adalah kolaps pembuluh darah kapiler dan pembesaran kelenjar getah bening.
Dari hasil diskusi dengan salah satu dokter yang bertugas di PUSKESMAS Gunungsitoli Fodo (Fajar Calvin Harefa) dengan ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) kabupaten Nias (Onlyhu Ndraha) (07/08/09) ia mengatakan bahwa wabah ini sebenarnya sudah lama terjadi di Indonesia dan di Nias sendiri sudah pernah terjadi sebelumnya. Cara penanggulangan masyarakat sangat diharapkan kebrsihan lingkungan. Karena faktor kesehatan dipengaruhi oleh lingkungan sebesar 60%. Selain dari pada itu kiranya memakai kelambu setiap tidur, memasak air sampai mendidih, membuang tempat yang mengandung sarang nyamuk dan segera konsultasikan kepada Puskesmas terdekat.
Jumat, 07 Agustus 2009
Lomba PRB
LOMBA PENGURANGAN RESIKO BENCANA
TINGKAT SD
Gunungsitoli, Deli Pos
Dari hasil penelitian para ahli mengatakan bahwa 83 % luas negara Indonesia rawan bencana. Terbukti dengan beberapa tahun terakhir ini berbagai daerah di Indonesia di landa bencana. Lebih khususnya lagi yang terjadi di pulau Nias pada tanggal 28 Maret 2005. Banyak lembaga non pemerintah (LSM) baik internasional maupun lokal banyak memfokuskan program kerjanya untuk Pengurangan Resiko Bencana (PRB). Seperti halnya Non Goverment Organication (NGO) CWS Indonesia yang memberdayakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal Yayasan TOMOSA – AMIN dalam meningkatkan kapasitas Sekolah Dasar (SD), untuk mengurangi resiko bencana di masa yang akan datang.
Pada Lomba PRB tingkat SD yang diselenggarakan di SD 074040 Madula, Jl. Desa Madula Kec. Gunungsitoli Selatan Kotamadia Gunungsitoli (04/08/09) yang diikuti oleh 7 SD dampingan TOMOSA – AMIN (SDN Simanaere Bawödesölö, SDN Dahana Bawödesölö, SDN Madula, SDN Lölömboli, SDN Tabaloho Dahana, SDN Dahana Tabaloho dan SDN Tetehösi Afia) oleh Sela (staff TOMOSA-AMIN) saat berbincang-bincang dengan wartawan Deli Pos, Ianya mengatakan jenis lomba yang akan dilombakan antara lain adalah mengarang puisi yang berkaitan dengan PRB, menggambar, mengarang cerita dan bahkan ada juga lomba tingkat guru SD yaitu penyuluhan PRB dan kegiatan ini terselenggara dari kerjasama antara Dinas Pendidikan Kabupaten Nias, CWS Indonesia Dan TOMOSA-AMIN.
Novri (staff CWS yang menangani bidang bencana) menjelaskan kepada wartawan Deli Pos alasan mengapa tingkat SD lebih diberikan pemahaman mengenai PRB karena dari hasil pengalaman mereka ia katakan korban yang paling banyak adalah anak-anak sebab mereka masih awam untuk menyelamatkan diri. Teknik memberikan pendidikan PRB selain diberikan pemahaman kepada siswa juga kepada guru-guru dibekali, sebab gurulah yang sangat berperan dalam dunia pendidikan SD dengan membentuk Kelompok Siaga Bencana Basis Sekolah (KSBS) yang beranggotakan 10 orang yang kemudian didampingi oleh CWS dan TOMOSA – AMIN untuk diteruskan kepada seluruh siswa dan guru. Novri lebih jauh menjelaskan tujuan diadakannya lomba agar meningkatkan pemahaman siswa dan guru mengenai PRB dan untuk mendorong dinas terkait mencantumkan materi bencana ini di dalam kurikulum sekolah. Ianya senada berharap pihak stakecholder senantiasa menyetujui kurikulum PRB di masing-masing sekolah.
Kegiatan Lomba PRB dihadiri oleh Dinas pendidikan Imanuel Hura (Sekretaris) dan kabag penanganan bencana Saklak kabupaten Nias T. Laoli. Pada kata arahan yang disampaikan oleh T. Laoli mengatakan baiknya kita berterima kasih dan mendorong lembaga yang berupaya terbentuknya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Mari kita mencontoh seperti kota Padang di sana telah terbentuk BPBD sementara di Nias yang sudah di landa bencana masih Belem terbentuk. Harapannya kepada pihak penyelenggara kegiatan lomba PRB kiranya tidak bosan dan dapat memberikan ilmu yang sangat berharga kepada siswa untuk kesiapsiagaan PRB.
Kepala Dinas Pendidikan melalui Sekretaris Dinas Pendidikan Imanuel Hura sangat senang dan berterima kasih kepada CWS dan TOMOSA-AMIN telah memberikan pemahaman kepada siswa dan guru mengenai PRB. Dimana kegiatan yang dilakukan oleh CWS dan TOMOSA- AMIN sangat membentu pemerintah untuk PRB di kabupaten Nias. Saat wartawan Deli Pos menanyakan kepada Imanuel Hura mengenai tanggapan Dinas Pendidikan pada lomba PRB ini ianya mengatakan bahwa ini sangat penting karena merupakan bagian dari misi kemanusian dan dari pihak dinas pendidikan sangat mendukung sebab kegiatannya berbasis SD, ianya sangat berharap kiranya guru sangat berperan dalam mensosialisasikan kepada seluruh siswa dan kiranya kegiatan ini terus berlanjut sampai di seluruh pulau Nias. Lebih jauh ditanyakan mengenai harapan beberapa NGO agar PRB dicantumkan menjadi kurikulum si sekolah, katanya pihak Dinas Pendidikan sangat mendukung hanya saja masih perlu pengkajian lebih lagi dan merencanakan lebih baik agar nantinya benar-benar berkesinambungan. Dan ini sebenarnya merupakan tugas kita bersama semuanya. Ditambahkannya, lomba yang diadakan oleh CWS dan TOMOSA ini sangat baik dan efektif karena mengingatkan siswa dan guru lebih tanggap menghadapi bencana. Tegasnya.
Putri Harefa (11) kelas V SDN Tetehösi dan Trililin Natalia Zendatö (11) kelas V SDN 074044 Dahana Bawödesölö sangat senang mengikuti lomba ini karena selain mengikuti lomba juga mengingatkan mereka bagaimana cara menyelamatkan diri di saat terjadi bencana. Mereka mengambil contoh cara menyelamatkan diri saat terjadi bencana harus berlindung di bawah meja atau cepat lari keluar dan mencari tempat yang aman. Mereka seakan mengingat kembalui apa yang telah disosialisasikan oleh CWS dan TOMOSA- AMIN.
TINGKAT SD
Gunungsitoli, Deli Pos
Dari hasil penelitian para ahli mengatakan bahwa 83 % luas negara Indonesia rawan bencana. Terbukti dengan beberapa tahun terakhir ini berbagai daerah di Indonesia di landa bencana. Lebih khususnya lagi yang terjadi di pulau Nias pada tanggal 28 Maret 2005. Banyak lembaga non pemerintah (LSM) baik internasional maupun lokal banyak memfokuskan program kerjanya untuk Pengurangan Resiko Bencana (PRB). Seperti halnya Non Goverment Organication (NGO) CWS Indonesia yang memberdayakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal Yayasan TOMOSA – AMIN dalam meningkatkan kapasitas Sekolah Dasar (SD), untuk mengurangi resiko bencana di masa yang akan datang.
Pada Lomba PRB tingkat SD yang diselenggarakan di SD 074040 Madula, Jl. Desa Madula Kec. Gunungsitoli Selatan Kotamadia Gunungsitoli (04/08/09) yang diikuti oleh 7 SD dampingan TOMOSA – AMIN (SDN Simanaere Bawödesölö, SDN Dahana Bawödesölö, SDN Madula, SDN Lölömboli, SDN Tabaloho Dahana, SDN Dahana Tabaloho dan SDN Tetehösi Afia) oleh Sela (staff TOMOSA-AMIN) saat berbincang-bincang dengan wartawan Deli Pos, Ianya mengatakan jenis lomba yang akan dilombakan antara lain adalah mengarang puisi yang berkaitan dengan PRB, menggambar, mengarang cerita dan bahkan ada juga lomba tingkat guru SD yaitu penyuluhan PRB dan kegiatan ini terselenggara dari kerjasama antara Dinas Pendidikan Kabupaten Nias, CWS Indonesia Dan TOMOSA-AMIN.
Novri (staff CWS yang menangani bidang bencana) menjelaskan kepada wartawan Deli Pos alasan mengapa tingkat SD lebih diberikan pemahaman mengenai PRB karena dari hasil pengalaman mereka ia katakan korban yang paling banyak adalah anak-anak sebab mereka masih awam untuk menyelamatkan diri. Teknik memberikan pendidikan PRB selain diberikan pemahaman kepada siswa juga kepada guru-guru dibekali, sebab gurulah yang sangat berperan dalam dunia pendidikan SD dengan membentuk Kelompok Siaga Bencana Basis Sekolah (KSBS) yang beranggotakan 10 orang yang kemudian didampingi oleh CWS dan TOMOSA – AMIN untuk diteruskan kepada seluruh siswa dan guru. Novri lebih jauh menjelaskan tujuan diadakannya lomba agar meningkatkan pemahaman siswa dan guru mengenai PRB dan untuk mendorong dinas terkait mencantumkan materi bencana ini di dalam kurikulum sekolah. Ianya senada berharap pihak stakecholder senantiasa menyetujui kurikulum PRB di masing-masing sekolah.
Kegiatan Lomba PRB dihadiri oleh Dinas pendidikan Imanuel Hura (Sekretaris) dan kabag penanganan bencana Saklak kabupaten Nias T. Laoli. Pada kata arahan yang disampaikan oleh T. Laoli mengatakan baiknya kita berterima kasih dan mendorong lembaga yang berupaya terbentuknya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Mari kita mencontoh seperti kota Padang di sana telah terbentuk BPBD sementara di Nias yang sudah di landa bencana masih Belem terbentuk. Harapannya kepada pihak penyelenggara kegiatan lomba PRB kiranya tidak bosan dan dapat memberikan ilmu yang sangat berharga kepada siswa untuk kesiapsiagaan PRB.
Kepala Dinas Pendidikan melalui Sekretaris Dinas Pendidikan Imanuel Hura sangat senang dan berterima kasih kepada CWS dan TOMOSA-AMIN telah memberikan pemahaman kepada siswa dan guru mengenai PRB. Dimana kegiatan yang dilakukan oleh CWS dan TOMOSA- AMIN sangat membentu pemerintah untuk PRB di kabupaten Nias. Saat wartawan Deli Pos menanyakan kepada Imanuel Hura mengenai tanggapan Dinas Pendidikan pada lomba PRB ini ianya mengatakan bahwa ini sangat penting karena merupakan bagian dari misi kemanusian dan dari pihak dinas pendidikan sangat mendukung sebab kegiatannya berbasis SD, ianya sangat berharap kiranya guru sangat berperan dalam mensosialisasikan kepada seluruh siswa dan kiranya kegiatan ini terus berlanjut sampai di seluruh pulau Nias. Lebih jauh ditanyakan mengenai harapan beberapa NGO agar PRB dicantumkan menjadi kurikulum si sekolah, katanya pihak Dinas Pendidikan sangat mendukung hanya saja masih perlu pengkajian lebih lagi dan merencanakan lebih baik agar nantinya benar-benar berkesinambungan. Dan ini sebenarnya merupakan tugas kita bersama semuanya. Ditambahkannya, lomba yang diadakan oleh CWS dan TOMOSA ini sangat baik dan efektif karena mengingatkan siswa dan guru lebih tanggap menghadapi bencana. Tegasnya.
Putri Harefa (11) kelas V SDN Tetehösi dan Trililin Natalia Zendatö (11) kelas V SDN 074044 Dahana Bawödesölö sangat senang mengikuti lomba ini karena selain mengikuti lomba juga mengingatkan mereka bagaimana cara menyelamatkan diri di saat terjadi bencana. Mereka mengambil contoh cara menyelamatkan diri saat terjadi bencana harus berlindung di bawah meja atau cepat lari keluar dan mencari tempat yang aman. Mereka seakan mengingat kembalui apa yang telah disosialisasikan oleh CWS dan TOMOSA- AMIN.
Rabu, 05 Agustus 2009
Nias Dilanda Wabah Penyakit Cikungunya
pada bulan ini Juli 2009 - Agustus 2009 di Nias masih dilanda wabah penyakit Cikungunya. penyakit ini dapat menyerang siapa saja dan dapat menular.
gejala penyakit ini antara lain : demam, menggigil, otot ngilu, kulit berbintik merah dan tidak dapat berjalan (lumpuh) akibat sendi ngilu.
diharapkan kepada seluruh masyarakat Nias jika megalami hal demikian agar sesegera berobat ke puskesmas terdekat.
Ketua Dewan Kesehatan Rakyat Kabupaten Nias
Onlyhu Ndraha
gejala penyakit ini antara lain : demam, menggigil, otot ngilu, kulit berbintik merah dan tidak dapat berjalan (lumpuh) akibat sendi ngilu.
diharapkan kepada seluruh masyarakat Nias jika megalami hal demikian agar sesegera berobat ke puskesmas terdekat.
Ketua Dewan Kesehatan Rakyat Kabupaten Nias
Onlyhu Ndraha
Selasa, 14 Juli 2009
MUKERNAS I DKR
MUSYAWARAH KERJA NASIONAL 1 DEWAN KESEHATAN RAKYAT
PADEPOKAN PONDOK GEDE TMII, JAKARTA 1 JULI 2009
Pada MUKERNAS I DKR ini dihadiri seluruh DKR kabupaten se INdonesia....
tidak kalah saing lo, dari Nias juga ada (Onlyhu Ndraha dan Marlius Telaumbanua)
tau ga pada kesempatan itu ketua DKR kab. Nias meminta kepada Menteri Kesehatan agar kasus indikasi malpraktek di RSU Gunungsitoli dapat diperhatikan.
Terima kasih buat abangnda Eric Marbun yang sudah menyediakan eaktunya buat saya untuk keliling Jakarta,
Jakarta memang sangat mahal untuk menghirup udara yang segar...........
Tu ja dulu ya........
tak lupa juga ngucapin terimakasih kepada emua pihak yang telah memberikan dorongan dan motifasi sehingga kami dari Nias dapat menghadiri MUKERNAS I DKR di Jakarta.
Ucapan tersebut terhanturkan kepada :
1. Bapak Wakil Bupati Nias (Temazaro Harefa)
2. Direktur FORNIHA
3. Harun Tambing
4. Nataalui Duha
5. Henri
6. monica
7. Kurniawan Harefa
8. Vinche Waruwu
9. Wawan Daeli
10.Yanuarman Gulo
11.Dan kepada seluruh kawan2 yang lain.
terima kasih.
PADEPOKAN PONDOK GEDE TMII, JAKARTA 1 JULI 2009
Pada MUKERNAS I DKR ini dihadiri seluruh DKR kabupaten se INdonesia....
tidak kalah saing lo, dari Nias juga ada (Onlyhu Ndraha dan Marlius Telaumbanua)
tau ga pada kesempatan itu ketua DKR kab. Nias meminta kepada Menteri Kesehatan agar kasus indikasi malpraktek di RSU Gunungsitoli dapat diperhatikan.
Terima kasih buat abangnda Eric Marbun yang sudah menyediakan eaktunya buat saya untuk keliling Jakarta,
Jakarta memang sangat mahal untuk menghirup udara yang segar...........
Tu ja dulu ya........
tak lupa juga ngucapin terimakasih kepada emua pihak yang telah memberikan dorongan dan motifasi sehingga kami dari Nias dapat menghadiri MUKERNAS I DKR di Jakarta.
Ucapan tersebut terhanturkan kepada :
1. Bapak Wakil Bupati Nias (Temazaro Harefa)
2. Direktur FORNIHA
3. Harun Tambing
4. Nataalui Duha
5. Henri
6. monica
7. Kurniawan Harefa
8. Vinche Waruwu
9. Wawan Daeli
10.Yanuarman Gulo
11.Dan kepada seluruh kawan2 yang lain.
terima kasih.
Sabtu, 04 Juli 2009
Temu Kangen Alumni USU dgn ForMaN USU
Hal yang sangat menyenangkan ketika Forum Mahasiswa Nias Universitas Sumatera Utara (ForMaN - USU) dapat menyelengggarakan pertemuan temu kangen dengan seluruh alumni USU yang ada di Nias.
Gagasan ini berluma ketika kami (Bang Meinan Harefa, Pak Yulianus Harefa, Hubertus Manao (ketua ForMan USU ang. 1, Kalvin Halawa (sekretaris ForMaN USU ang.1 dan Onlyhu Ndraha (Kabid. Pendidikan ForMaN USu ang. 1) bertem di rumah Pak Yul. Harefa pada malam hari. Bang Meiman memberikan saran pada malam itu (Februari 2008) alangkah baiknya jika ForMaN USU dapat melakukan suatu kegiatan temu kangen alumni dengan ForMaN USU. Karena organisasi ForMaN USU masih seumuran jagung pada saat itu, sehingga tidak dapat melaksanakannya melainkan memberikan rokomendasi kepada pengurus baru.
pada akhirnya pengurus baru yang diketuai oleh Meiman Zega (FT 06) mencantmkan sebagai program kerja yang akhirnya kegiatan temu kangen alumni USU asal Nias dengan ForMaN USU elah terlaksana pada tanggal 21 Mei 2009 di Pantai Nusa Lima Fowa.
pada acara tersebut seluruh alumni yang telah hadir sangat menyambut antusias agar di pulau Nias terbentuk wadah alumni USU Nias.
selesainya acara serimonial, ForMaN USU mengadakan diskusi lintas generasi mengenai kerinduan ForMaN agar di Nias terbentuk wadah alumni USU, kegiatan tersebut dipandu oleh Onlyhu Ndraha (FMIPA 04) yang mana yang berbicara pada diskusi lintas generasi Bang Hengky Yusup Fau 72, Aroziduhu gulo 76, Perdamaian Zendato 78, Yniaro Nazara 80, Ofredi Harefa 90, Meiman Harefa 94, dan Vinhe Waruwu 22, yang kemudian disusul oleh alumni yang lain.
kesimpulan disksi tersebut dipandu dengan tiga orang alumni (Aroziduhu Gulo, Perdamaian Zendato dan Yuniaro Nazara) yang akhirnya terjadi kesepakatan bahwa ntuk mengkoordinir terbentuknya wadah alumni USU di Pulau Nias maka terpilihlah bang Meiman Harefa sebagai ketua koordinator tim penggagas pembentkan wadah alumni yang telah lama dirindukan ole ForMaN USU.
Kegiatan tersebut ditanggungjawapin oleh Johni Hura FISIP 07 sebagai ketua paniatia, Vera Lase Pertanian 07 sebagai saekretaris dan Vinche Zebua FKM 07 sebagai bendahara.
Gagasan ini berluma ketika kami (Bang Meinan Harefa, Pak Yulianus Harefa, Hubertus Manao (ketua ForMan USU ang. 1, Kalvin Halawa (sekretaris ForMaN USU ang.1 dan Onlyhu Ndraha (Kabid. Pendidikan ForMaN USu ang. 1) bertem di rumah Pak Yul. Harefa pada malam hari. Bang Meiman memberikan saran pada malam itu (Februari 2008) alangkah baiknya jika ForMaN USU dapat melakukan suatu kegiatan temu kangen alumni dengan ForMaN USU. Karena organisasi ForMaN USU masih seumuran jagung pada saat itu, sehingga tidak dapat melaksanakannya melainkan memberikan rokomendasi kepada pengurus baru.
pada akhirnya pengurus baru yang diketuai oleh Meiman Zega (FT 06) mencantmkan sebagai program kerja yang akhirnya kegiatan temu kangen alumni USU asal Nias dengan ForMaN USU elah terlaksana pada tanggal 21 Mei 2009 di Pantai Nusa Lima Fowa.
pada acara tersebut seluruh alumni yang telah hadir sangat menyambut antusias agar di pulau Nias terbentuk wadah alumni USU Nias.
selesainya acara serimonial, ForMaN USU mengadakan diskusi lintas generasi mengenai kerinduan ForMaN agar di Nias terbentuk wadah alumni USU, kegiatan tersebut dipandu oleh Onlyhu Ndraha (FMIPA 04) yang mana yang berbicara pada diskusi lintas generasi Bang Hengky Yusup Fau 72, Aroziduhu gulo 76, Perdamaian Zendato 78, Yniaro Nazara 80, Ofredi Harefa 90, Meiman Harefa 94, dan Vinhe Waruwu 22, yang kemudian disusul oleh alumni yang lain.
kesimpulan disksi tersebut dipandu dengan tiga orang alumni (Aroziduhu Gulo, Perdamaian Zendato dan Yuniaro Nazara) yang akhirnya terjadi kesepakatan bahwa ntuk mengkoordinir terbentuknya wadah alumni USU di Pulau Nias maka terpilihlah bang Meiman Harefa sebagai ketua koordinator tim penggagas pembentkan wadah alumni yang telah lama dirindukan ole ForMaN USU.
Kegiatan tersebut ditanggungjawapin oleh Johni Hura FISIP 07 sebagai ketua paniatia, Vera Lase Pertanian 07 sebagai saekretaris dan Vinche Zebua FKM 07 sebagai bendahara.
Jumat, 19 Juni 2009
Dewan Kesehatan Rakyat (DKR)
Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Nias
Hal yang terbaru dalam hidup mengemban tugas menjadi ketua DKR Cabang Nias.
mungkinkah ini dapat aku jalani?????
semoga dengan hadirnya DKR di Nias dapat membantu masyarakat semuanya tanpa terkecuali.
Hal yang terbaru dalam hidup mengemban tugas menjadi ketua DKR Cabang Nias.
mungkinkah ini dapat aku jalani?????
semoga dengan hadirnya DKR di Nias dapat membantu masyarakat semuanya tanpa terkecuali.
Rabu, 17 Juni 2009
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia
BAB I
SEJARAH SINGKAT
GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA (GMNI)
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, atau disingkat GMNI, lahir sebagai hasil proses peleburan 3 (tiga) organisasi mahasiswa yang berazaskan Marhaenisme Ajaran Bung Karno. Ketiga organisasi itu ialah:
1. GERAKAN MAHASISWA MARHAENIS, berpusat di Jogjakarta
2. GERAKAN MAHASISWA MERDEKA, berpusat di Surabaya
3. GERAKAN MAHASISWA DEMOKRAT INDONESIA, berpusat di Jakarta.
Proses peleburan ketiga organisasi mahasiswa mulai tampak, ketika pada awal bulan September 1953, Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia (GMDI) melakukan pergantian pengurus, yakni dari Dewan Pengurus lama yang dipimpin Drs. Sjarief kepada Dewan Pengurus baru yang diketuai oleh S.M. Hadiprabowo.
Dalam satu rapat pengurus GMDI yang diselenggarakan di Gedung Proklamasi, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, tercetus keinginan untuk mempersatukan ketiga organisasi yang seazas itu dalam satu wadah. Keinginan ini kemudian disampaikan kepada pimpinan kedua organisasi yang lain, dan ternyata mendapat sambutan positip.
Setelah melalui serangkaian pertemuan penjajagan, maka pada Rapat Bersama antar ketiga Pimpinan Organisasi Mahasiswa tadi, yang diselenggarakan di rumah dinas Walikota Jakarta Raya (Soediro), di Jalan Taman Suropati, akhirnya dicapai sejumlah kesepakatan antara lain:
1. Setuju untuk melakukan fusi
2. Wadah bersama hasil peleburan tiga organisasi bernama "Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia " (GMNI).
3. Azas organisasi adalah: MARHAENISME ajaran Bung Karno.
4. Sepakat mengadakan Kongres I GMNI di Surabaya, dalam jangka waktu enam bulan setelah pertemuan ini.
Para pimpinan tiga organisasi yang hadir dalam pertemuan ini antara lain:
1. Dari Gerakan Mahasiswa Merdeka:
- SLAMET DJAJAWIDJAJA
- SLAMET RAHARDJO
- HERUMAN
2. Dari Gerakan Mahasiswa Marhaenis:
- WAHYU WIDODO
- SUBAGIO MASRUKIN
- SRI SUMANTRI MARTOSUWIGNYO
3. Dari Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia:
- S.M. HADIPRABOWO
- DJAWADI HADIPRADOKO
- SULOMO
PENTING: Baca Pidato SM. Hadiprabowo di Kongres V Salatiga 1969
Hasil kesepakatan tersebut akhirnya terwujud.
Dengan direstui Presiden Sukarno, pada tanggal 22 Maret 1954, dilangsungkan KONGRES I GMNI di Surabaya. Momentum ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi GMNI (Dies Natalis) yang diperingati hingga sekarang. Adapun yang menjadi materi pokok dalam Kongres I ini, selain membahas hasil-hasil kesepakatan antar tiga pimpinan organisasi yang ber-fusi, juga untuk menetapkan personil pimpinan di tingkat pusat.
Sehubungan dengan banyak persoalan yang sebenarnya belum terselesaikan dalam forum Kongres I, maka dua tahun kemudian (1956), GMNI kembali menyelenggarakan KONGRES II GMNI di Bandung, dengan pokok persoalan di seputar masalah konsolidasi internal organisasi. Sebagai hasil realisasi keputusan Kongres II ini, maka Organisasi cabang GMNI mulai tertata di beberapa kota.
Akibat dari perkembangan yang kian meningkat di sejumlah basis organisasi, tiga tahun setelah Kongres II, GMNI kembali menyelenggarakan KONGRES III GMNI di Malang tahun 1959, yang dihadiri sejumlah Utusan cabang yang dipilih melalui Konperensi Cabang masing-masing. Berawal dari Kongres III ini, GMNI mulai meningkatkan kiprahnya, baik dalam lingkup dunia perguruan tinggi, maupun ditengah-tengah masyarakat.
Dalam kaitan dengan hasil Kongres III ini, masih pada tahun yang sama (1959) GMNI menyelenggarakan Konperensi Besar GMNI di Kaliurang Jogjakarta, dan Presiden Sukarno telah berkenan ikut memberikan Pidato Sambutan yang kemudian dikenal dengan judul "Hilangkan Steriliteit Dalam Gerakan Mahasiswa !".
Untuk lebih memantapkan dinamika kehidupan pergerakan GMNI, maka direncanakan pada tahun 1965 akan diselenggarakan Kongres V GMNI di Jakarta. Namun Kongres V tersebut gagal terlaksana karena gejolak politik nasional yang tidak menentu akibat peristiwa G30S/PKI. Kendati demikian, acara persiapannya sudah sempat direalisiir yakni Konperensi besar GMNI di Pontianak pada tahun 1965. Dalam Konferensi besar ini telah dihasilkan kerangka Program Perjuangan, serta Program Aksi bagi Pengabdian Masyarakat.
Dampak peristiwa G30S/PKI bagi GMNI sangat terasa sekali, sebab setelah peristiwa tersebut, GMNI dihadapkan pada cobaan yang cukup berat. Perpecahan dalam kubu Front Marhaenis ikut melanda GMNI, sehingga secara nasional GMNI jadi lumpuh sama sekali. Di tengah hantaman gelombang percaturan politik nasional yang menghempas keras, GMNI mencoba untuk bangkit kembali melakukan konsolidasi. Terlaksana KONGRES V GMNI di Salatiga tahun 1969 (yang seharusnya di Jakarta tetapi gagal dilaksanakan). Namun Kongres V ini tetap belum bisa menolong stagnasi organisasi yang begitu parah.
Namun demikian kondisi ini tampaknya telah membangkitkan kesadaran kesadaran baru dikalangan warga GMNI, yakni kesadaran untuk tetap bergerak pada kekuatan diri sendiri, maka mulai 1969, thema "Independensi GMNI" kembali menguasai lam pikiran para aktivis khususnya yang berada di Jakarta dan Jogjakarta. Tuntutan Independensi ini mendapat reaksi keras, baik dari kalangan Pimpinan Pusat GMNI maupun dari PNI/Front Marhaenis. Tuntutan independensi ini sebenarnya merupakan upaya GMNI untuk kembali ke "Khittah" dan "Fitrah" nya yang sejati. Sebab sejak awal GMNI sudah independen. Tuntutan ini sesungguhnya sangat beralasan dan merupakan langkah antisipasi, sebab tidak lama kemudian terjadi restrukturisasi yang menyebabkan PNI/FM berfusi kedalam PDI.
Setelah gejolak politik reda GMNI kembali memanfaatkan momentum tersebut untuk membangun kembali organisasinya. Dilaksanakan KONGRES VI GMNI di Ragunan-Jakarta tahun 1976, dengan thema pokok: "Pengukuhan Independensi GMNI serta Konsolidasi Organisasi". Hal lain yang patut dicatat dalam Kongres VI ini adalah penegasan kembali tentang Azas Marhaenisme yang tidak boleh dicabut oleh lembaga apapun juga, serta perubahan model kepemimpinan kearah kepemimpinan kolektif dalam bentuk lembaga Presidium.
Selain itu, Kongres VI mempunyai arti tersendiri bagi GMNI, sebab mulai saat itu telah terjadi regenerasi dalam keanggotaan GMNI, yang ditandai dengan munculnya sejumlah pimpinan basis dan cabang dari kalangan mahasiswa muda yang tidak terkait sama sekali dengan konflik internal PNI/FM di masa lalu.
Mengingat persoalan konsolidasi meliputi berbagai aspek, maka masalah yang sama dibahas pula dalam KONGRES VII GMNI di Medan tahun 1979. dalam Kongres VII ini kembali ditegaskan bahwa: Azas organisasi tidak boleh diubah, Independensi tetap ditegakkan, dan konsolidasi organisasi harus seimbang dengan konsolidasi ideologi.
Titik cerah bagi GMNI yang mulai bersinar di tahun 1979 ternyata tidak berlangsung lama. Intervensi kekuatan diluar GMNI, yang memang menginginkan GMNI lemah, dengan berpadu bersama 'interest pribadi' segelintir oknum pimpinan GMNI, telah mengundang malapetaka terhadap organisasi mahasiswa ini.
Kongres VIII GMNI yang sedianya akan diselenggarakan di Jogjakarta mengalami kegagalan karena diprotes oleh sejumlah cabang (Jakarta, Medan, Malang, Manado, Bandung, dan lain-lain), karena tercium indikasi kecurangan untuk memenangkan aspirasi pihak luar dalam Kongres VIII itu. tetapi usaha filtrasi dan perlemahan GMNI tetap berlangsung sewaktu KONGRES VIII GMNI di Lembang-Bandung tahun 1982.
Hanya dengan pengawalan ketat dari aparat negara Kongres VIII tersebut bisa berlangsung, dan dimenangkan oleh segelintir oknum pimpinan GMNI tadi, namun dampaknya bagi organisasi sangat besar sekali.
Presidium GMNI hasil Kongres VIII terpecah-belah, dan disusul perpecahan berangkai semua cabang. Program Kaderisasi, regenerasi akhirnya macet total.
KONGRES IX GMNI di Samarinda tahun 1985 gagal menampilkan wajah baru dalam struktur kepemimpinan GMNI, disamping kegagalan dalam proses pembaharuan pemikiran seta operasioniil program.
Perpecahan ini akhirnya menjalar ke berbagai struktur organisasi dan mencuat dalam KONGRES X GMNI di Salatiga tahun 1989, yang diwarnai kericuhan fisik. Dampak dari kegagalan regenerasi dan kaderisasi Kongres X akhirnya hanya menampilkan wajah lama dalam struktur kepemimpinan GMNI.
Dan yang lebih menyedihkan lagi, para oknum pimpinan GMNI di tingkat Pusat terjebak dengan kebiasaan saling "pecat-memecat". Identitas sebagai organisasi perjuangan menjadi luntur, sebab yang lebih menonjol justru perilaku sebagai "birokrat GMNI". untuk mempertahankan status quo, dan sekaligus untuk melestarikan budaya tadi, oknum-oknum pimpinan pusat mulai mengintrodusiir apa yang disebut "Komunitas Baru GMNI" yang ditetapkan melalui deklarasi Jayagiri. Inilah cobaan yang terberat dihadapi GMNI. Sebab organisasi ini tidak hanya terperangkap dalam konflik kepentingan perorangan yang bersifat sesaat, tetapi juga mulai mengalami erosi idealisme, serta kegersangan kreativitas dan inovasi.
Secara nasional formal, kesadaran untuk memperbaiki arah perjuangan tampaknya belum muncul. Pada KONGRES XI GMNI di Malang tahun 1992, kejadian di Salatiga kembali terulang. Sementara suara-suara cabang yang menuntut otonomi semakin nyaring dan meluas.
Kondisi ini kemudian melahirkan format baru dalam tata hubungan antar kader pejuang pemikir-pemikir pejuang yakni: hubungan kejuangan yang bersifat personal-fungsional. Sebab hubungan formal-institusional tidak efektif lagi.
"Perlawanan" cabang-cabang kembali dilakukan di KONGRES XII GMNI di Denpasar Bali tahun 1995, tetapi keberhasilan hanya pada tingkatan materi program. Dimana kemudian dikenal dan dimunculkan kembali di AD/ART mengenai Azas perjuangan "Sosialis Religius - Progressif Revolusioner" yang membuat banyak pihak terkejut-kejut, tetapi 'kekalahan' terjadi pada pertempuran perebutan pimpinan nasional yang kembali di-warnai oleh intervesi 'orang-orang lama' GMNI. Isu money-politics sangat kental di forum Kongres XII ini.
Disaat cabang-cabang kembali mulai menata diri, perpecahan kembali melanda Presidium hasil Kongres XII Bali, saling boikot dan intrik menjadi makanan utama sehari hari di sekretariat pusat GMNI Wisma Marinda. Pada saat itu cabang-cabang tidak ambil pusing dengan tetap bergerak menguatkan garis ideologi yang mulai kurang tersentuh. Dimulai dengan dialog dan pembongkaran wacana mengenai Marhaenisme di Jogja dan kemudian dilanjutkan di Surabaya 14-17 Juli 1998. cabang-cabang semakin memantapkan hubungan dengan tidak menghiraukan perpecahan yang terjadi di tingkat pusat.
Ketika terjadi pergerakan massiv mulai Mei 1998, cabang-cabang dapat 'berbicara banyak' di tingkat kota masing-masing, tetapi tidak begitu halnya dengan GMNI di tingkat nasional. Perubahan politik di tingkat nasional rupanya semakin 'tidak menyadarkan pimpinan GMNI'. Perpecahan ini memuncak saat beberapa oknum pimpinan GMNI ikut mendaftarkan diri menjadi calon legislatif PDI Perjuangan. Cabang-cabang bereaksi keras dengan menarik dukungannya terhadap pimpinan nasional saat itu.
Kongres XIII GMNI yang sedianya dilaksanakan di Kupang-NTT mendapatkan protes keras dari cabang-cabang karena prosesnya yang tidak konstitusionil dan penuh rekayasa; termasuk perilaku 'saling membubarkan' efek dari perpecahan Presidium. Akhirnya Kongres tersebut terselenggara dengan diboikot 19 cabang antara lain Medan, Bandung, Jogjakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Jember, Malang, Denpasar, Pontianak, Manado dll.
Perlawanan cabang-cabang atas tegaknya konstitusi GMNI terus diusahakan, lewat pertemuan-pertemuan antar Pimpinan Cabang di Malang, Surabaya, Jember, Semarang hingga Lokakarya Nasional GMNI di Solo Januari 2000 yang menghasilkan draft pemikiran pembaharuan GMNI untuk kembali ke azas Marhaenisme dan mencanangkan diselenggarakannya Kongres Luar Biasa (KLB) GMNI untuk menjembatani segala perpecahan yang ada.
KLB GMNI, Februari 2001, dipenuhi nuansa / keinginan untuk pembaharuan oleh DPC-DPC. Semangat itu terakumulasi lewat rekomendasi untuk "rekonsiliasi" dengan kelompok "kupang". Pelan tapi pasti, semoga GMNI tetap jaya....!!
Hubungan interpersonal antar aktivis GMNI di cabang-cabang semakin erat dan muncul kerinduan kembali akan "Nilai Dasar Perjuangan" yang selama ini ditinggalkan.
Sanggupkah GMNI meraih kembali momentum yang jaya gemilang..?. Perjuangan kita persama yang akan menjawabnya. Marilah kita belajar dari Pengalaman beberapa kali terselenggaranya Kongres GMNI sampai saat ini… Merdeka…!
BAB II
AZAS DAN DOKTRIN PERJUANGAN GMNI
Sebagai organisasi Gerakan Perjuangan, GMNI mempunyai Azas dan Doktrin Perjuangan, yang menjadi Landasan serta Penuntun Arah Perjuangan GMNI.
Azas dan Doktrin Perjuangan GMNI adalah:
1. PANCASILA
2. UNDANG-UNDANG DASAR 1945
3. MARHAENISME
4. PANCALOGI GMNI
I. PANCASILA
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Keterangan:
Agar dapat memahami Pancasila secara benar dan mendalam setiap anggota wajib membaca:
• "LAHIRNYA PANCASILA", Pidato Ir. Sukarno pada tanggal 1 Juni 1945
• "PANCASILA DASAR NEGARA", Kuliah Pancasila yang disampaikan oleh Bung Karno di Istana Negara.
• "MEMBANGUN DUNIA BARU", Pidato Presiden Sukarno didepan sidang Majelis Umum PBB tahun 1960.
•
II. UNDANG UNDANG DASAR 1945
“ Sesuai dengan Pembukaan UUD 1945”
Dari Pembukaan UUD 1945, ada beberapa hal yang patut dipahami oleh setiap Anggota GMNI, antara lain:
1. Pokok perjuangan bangsa Indonesia adalah menghapuskan segala bentuk penindasan dan ketidakadilan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
2. Perjuangan tersebut sesungguhnya merubakan berkat dari Allah Yang Maha Kuasa.
3. Negara berfungsi sebagai:
>> Perumahan' bangsa yang memberikan perlindungan bagi seluruh rakyat dan seluruh wilayah Republik Indonesia.
>> Alat perjuangan untuk menuju terwujudnya cita-cita nasional yakni: Masyarakat adil dan makmur di tengah dunia yang tanpa penindasan.
III. MARHAENISME
>> KETUHANAN YANG MAHA ESA <<
>> SOSIO NASIONALISME <<
>> SOSIO DEMOKRASI <<
>> BERJUANG UNTUK RAKYAT <<
>> BERJUANG BERSAMA-SAMA RAKYAT <<
Pidato Bung Karno didepan Konferensi PARTINDO, Mataram 1933
TENTANG MARHAEN, MARHAENIS, MARHAENISME
1. Marhaenisme yaitu Sosio Nasionalisme dan Sosio Demokrasi
2. Marhaen yaitu kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain.
3. Partindo memakai perkataan Marhaen, dan tidak proletar oleh karena perkataan proletar sudah termaktub didalam perkataan Marhaen, dan oleh karena perkataan proletar itu bisa diartikan bahwa kaum tani dan kaum lain-lain kaum melarat tidak termaktub didalamnya.
4. Karena Partindo berkeyakinan bahwa didalam perjoangan, kaum melarat Indonesia lain-lain itu yang harus menjadi elemen-elemennya (bagian-bagiannya), maka Partindo memakai perkataan Marhaen itu.
5. Di dalam perjuangan kaum Marhaen, maka Partindo berkeyakinan bahwa kaum Proletar mengambil bagian yang paling besar sekali.
6. Marhaenisme adalah Azas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan negeri yang dalam segala halnya menyelamatkan kaum Marhaen.
7. Marhaenisme adalah pula Cara Perjoangan untuk mencapai susunan negeri yang demikian itu, yang oleh karenanya harus suatu cara perjoangan yang Revolusioner.
8. Jadi Marhaenisme adalah: cara Perjoangan dan Azas yang ditujukan terhadap hilangnya tiap-tiap Kapitalisme dan Imperialisme.
9. Marhaenisme adalah tiap-tiap orang bangsa Indonesia yang menjalankan Marhaenisme.
Pidato Bung Karno didepan Konferensi Besar GMNI, Kaliurang 1959
HILANGKAN STERILITEIT DALAM GERAKAN MAHASISWA
"Bagi saya Azas Marhaenisme adalah Azas yang paling cocok untuk Gerakan Rakyat Indonesia".
Rumusannya adalah:
1. Marhaenisme adalah Azas yang menghendaki susunan masyarakat yang dalam segala halnya menyelamatkan kaum Marhaen.
2. Marhaenisme cara perjuangan yang revolusioner sesuai dengan watak kaum marhaen pada umumnya.
3. Marhaenisme adalah, dus azas dan cara perjuangan "tegelijk" menuju kepada hilangnya Kapitalisme, Imperialisme dan Kolonialisme.
Secara positif, maka Marhaenisme saya namakan juga SOSIO NASIONALISME dan SOSIO DEMOKRASI; karena Nasionalismenya Kaum Marhaen adalah Nasionalisme yang Sosial Bewust, dan karenanya Demokrasinya Kaum Marhaen adalah Demokrasi yang Sosial Bewust-pula.
Dan Siapakah yang saya namakan Kaum Marhaen itu ??
Yang saya namakan Kaum Marhaen itu adalah : Setiap Rakyat Indonesia yang melarat atau lebih tepat, yang dimelaratkan oleh Sistem Kapitalisme, Imperialisme, dan Kolonialisme.
Kaum Marhaen terdiri dari tiga unsur
Pertama : Unsur Kaum Proletar (Buruh)
Kedua : Unsur kaum tani melarat Indonesia
Ketiga : Kaum Melarat Indonesia yang lain-lain.
Dan Siapakah yang saya maksud dengan kaum Marhaenis ??
kaum Marhaenis adalah "setiap pejuang dan setiap patriot bangsa":
-. Yang mengorganisir berjuta-juta kaum Marhaen itu dan
-. Yang bersama-sama dengan tenaga massa Marhaen itu hendak menumbangkan Sistem kapitalisme, Imperialisme, dan Kolonialisme, dan
-. Yang bersama-sama dengan massa marhaen membangun negara dan masyarakat yang kuat, bahagia sentosa, adil dan makmur.
Pokoknya ialah, bahwa Marhaenis adalah setiap orang yang menjalankan Marhaenisme yang saya jelaskan tadi.
Cam-kan benar-benar !! Setiap kaum Marhaenis berjuang untuk kepentingan kaum Marhaen dan bersama-sama kaum Marhaen.
IV. PANCALOGI GMNI
Pertama : I D E O L O G I
Kedua : R E V O L U S I
Ketiga : O R G A N I S A S I
Keempat : S T U D I
Kelima : I N T E G R A S I
Penjelasan:
1. Kelima prinsip diatas harus menjadi jatidiri bagi perjuangan setiap anggota GMNI
2. Ideologi artinya, perjuangan setiap anggota GMNI harus dilandaskan pada Ideologi yang menjadi Azas dan Doktrin Perjuangan GMNI, sebab ideologi merupakan acuan pokok dalam penentuan format dan pola operasional pergerakan.
3. Revolusi artinya, perjuangan setiap anggota GMNI harus berorientasi pada perombakan susunan masyarakat secara revolusioner. Revolusi bukan berarti pertumpahan darah, tetapi dalam pengertian pemikiran.
4. Organisasi artinya, perjuangan GMNI adalah perjuangan yang terorganisir, sesuai dengan azas dan doktrin perjuangan GMNI.
5. Studi artinya, sebagai organisasi mahasiswa, maka titik berat perjuangan GMNI adalah pada aspek studi. Amanat Penderitaan Rakyat harus dijadikan titik sentral dalam pendorong upaya studi ini.
6. Integrasi artinya, Perjuangan GMNI senantiasa tidak terlepas dari Perjuangan Rakyat Semesta. Setiap warga GMNI harus selalu berada ditengah-tengah Rakyat yang berjuang.
BAB III
GMNI SEBAGAI ORGANISASI PERJUANGAN
GMNI lahir dengan identitasnya yang hakiki sebagai "ORGANISASI PERJUANGAN" yang berlandaskan "Ajaran Sukarno". Untuk itu ada beberapa prinsip perjuangan yang harus tetap melekat dalam diri GMNI dan menjadi watak dasar perjuangan GMNI yakni:
1. GMNI berjuang untuk Rakyat.
2. GMNI berjuang bersama-sama Rakyat.
A. Makna "GERAKAN" Dalam Nama GMNI
GMNI adalah suatu organisasi Gerakan, atau dalam bahasa inggris disebut 'Movement'. Karena Gerakan GMNI dilakukan oleh sekelompok manusia yang berstatus 'Mahasiswa', maka GMNI disebut pula sebagai "Student Movement".
Adapun yang dimaksud dengan "Gerakan" adalah: Suatu usaha atau tindakan yang dilakukan dengan sadar dan sengaja oleh sekelompok manusia, dengan menggunakan sumua potensi yang ia miliki (mis: sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dll), atau yang ada di dalam masyarakat dengan tujuan untuk melakukan pembaruan-pembaruan terhadap sistem masyarakat, agar terwujud suatu tatanan masyarakat yang dicita-citakan bersama.
B.GMNI adalah Organisasi Perjuangan dan Perjuangan Terorganisir
GMNI merupakan Organisasi Perjuangan dan Gerakan Perjuangan Terorganisir. Artinya, gerakan Perjuangan harus menjadi Jiwa, Semangat atau Roh GMNI. Dan segala tindak perjuangan GMNI harus terorganisir yakni senantiasa mengacu pada Doktrin Perjuangan yang menjadi azas GMNI.
C. Tujuan Perjuangan GMNI
Sebagai Organisasi gerakan Perjuangan, yang menjadi Tujuan Perjuangan GMNI adalah: Mendidik kader bangsa mewujudkan masyarakat Pancasila sesuai dengan amanat UUD 1945 yang sejati. Sebab dalam keyakinan GMNI, hanya dalam masyarakat Pancasila yang sejati, Kaum Marhaen dapat diselamatkan dari bencana kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dan terhindar dari berbagai bentuk penindasan.
D. GMNI Bersifat Independen
GMNI adalah organisasi yang independen dan berwatak kerakyatan. Artinya, GMNI tidak beraffiliasi pada kekuatan politik manapun, dan berdaulat penuhdengan prinsip percaya [ada kekuatan diri sendiri.
Independensi bukan berarti netral, sebab GMNI senantiasa proaktif dalam perjuangan sesuai dengan Azas dan Doktrin Perjuangan yang ia jalankan. Walaupun demikian, GMNI tidak independen dari Kaum Marhaen serta Kepentingan Kaum Marhaen.
E. Makna "MAHASISWA" Dalam GMNI
GMNI adalah organisasi Mahasiswa. Sebagai konsekwensi dari sifat ini, maka yang boleh menjadi anggota GMNI hanya mereka yang berstatus mahasiswa. Namun demikian tidak semua mahasiswa dapat menjadi anggota GMNI, sebab yang dapat menjadi anggota GMNI hanya mereka yang mau berjuang, atau Insan Mahasiswa Pejuang. Tentu yang dimaksud dengan Mahasiswa Pejuang disini adalah mereka yang berjuang atas dasar Ajaran Sukarno.
F. Makna "NASIONAL" Dalam GMNI
GMNI adalah organisasi yang berlingkup nasional. Artinya bukan organisasi kedaerahan, keagamaan, kesukuan, atau golongan yang bersifat terbatas. Makna Nasional juga mengandung pengertian bahwa yang diperjuangkan oleh GMNI adalah kepentingan Nasional. Sebagai organisasi yang berwatak Nasionalis, maka Nasionalisme GMNI jelas adalah Nasionalisme Pancasila.
G. GMNI Adalah Organisasi Kader Sekaligus Organisasi Massa
GMNI adalah organisasi Kader sekaligus organisasi Massa, artinya GMNI merupakan wadah pembinaan kader-kader pejuang bangsa; dan dalam perjuangannya itu, kader GMNI senantiasa menyatu dengan berjuta-juta massa Marhaen. GMNI tidak berjuang sendirian, tetapi harus bersama-sama dan untuk seluruh rakyat, sebab Doktrin Perjuangan GMNI menggariskan demikian.
BAB IV
ATRIBUT ORGANISASI GMNI,
TUJUAN APLIKASI DAN PENDIDIKAN KADER GmnI
Sebagai satu organisasi GMNI mempunyai sejumlah Atribut Organisasi, yang berfungsi sebagai:
1. Alat untuk membangkitkan semangat Korps dan sekaligus sebagai alat untuk menggambarkan Nilai-Nilai Dasar yang terkandung dalam Doktrin Perjuangan GMNI.
2. Sarana untuk mengenalkan diri kepada pihak lain.
Atribut GMNI terdiri dari:
1. Panji/bendera GMNI
2. Lambang/Simbol GMNI
3. Logo GMNI
4. Jaket GMNI
5. Peci GMNI
6. Mars GMNI
7. Hymne GMNI
8. Motto GMNI
1. Panji/bendera GMNI
Panji/Bendera GMNI berbentuk empat persegi, dengan komposisi warna MERAH - PUTIH - MERAH, tegak vertikal, perbandingan tiap warna masing-masing 1/3 (satu per tiga) dari panjang Panji/Bendera.
Lebar Bendera 2/3 (dua per tiga) dari ukuran Panjang. Pada dasar Putih, terdapat lukisan lambang GMNI (Bintang Merah beserta Kepala Banteng Hitam), serta dibawah bintang tertulis logo GMNI.
Khusus Panji:
Panjang 100 cm, Lebar 90 cm, pada tiap pinggir dilengkapi dengan rumbai berwarna Kuning Emas, panjang rumbai 10 cm. Selain itu Panji dilengkapi dengan tongkat Panji dan Tali hias warna Kuning. Panjang tongkat 2 meter dengan warna kayu asli. Lengkap tentang fisik Panji/bendera lihat peraturan organisasi mengenai Panji/Bendera.
2. Lambang/Simbol GMNI
Lambang GMNI berbentuk Perisai bersudut enam, atau tiga sudut diatas, dan tiga sudut dibagian bawah. Komposisi warna dua bidang Merah mengapit bidang Putih, tegak vertikal. Di tengah perisai terdapat lukisan Bintang Merah dengan Kepala Banteng Hitam sebagai pusat. Dibawah Bintang terdapat logo GMNI.
Makna yang terkandung:
• Tiga Sudut atas Perisai melambangkan Marhaenisme
• Tiga Sudut bawah Perisai melambangkang Tri Dharma Perguruan Tinggi
• Warna Merah berarti Berani, warna Putih berarti suci. Makna komposisi: Keberanian dalam menegakkan Kesucian.
• Bintang melambangkan ketinggian cita-cita, serta keluhuran budi.
• Kepala Banteng melambangkan Potensi rakyat Marhaen. Warna Hitam melambangkan keteguhan pendirian dalam mengemban tugas perjuangan.
3. Logo GMNI
GmnI
Logo GMNI berbentuk tulisan yang terdiri dari empat huruf yaitu huruf "G", "M", "N", "I" dengan komposisi sebagai berikut:
• Huruf "G" yaitu kependekan dari kata "GERAKAN" ditulis dalam huruf Kapital (huruf besar)
• Huruf "M" yaitu kependekan dari kata "MAHASISWA" ditulis dalam huruf kecil.
• Huruf "N" yaitu kependekan dari kata "NASIONAL" ditulis dalam huruf kecil.
• Huruf "I" yaitu kependekan dari kata "INDONESIA" ditulis dalam huruf Kapital (huruf besar)
Penulisan tadi mengandung makna bahwa, Aspek GERAKAN dan INDONESIA merupakan elemen pokok yang harus ditonjolkan oleh organisasi GMNI, sementara aspek MAHASISWA dan NASIONAL hanya menunjukkan predikat yang mempertegas keberadaan organisasi GMNI.
4. Jaket GMNI
Soekarno look
Jaket GMNI berwarna MERAH DARAH, dengan model "Sukarno Look". Pada kantong kiri depan terpasang Lambang GMNI, dan diatas kantong kanan depan terpasang identitas lokasi. Kelengkapan lainnya seperti tanda jabatan, dan lain-lain dipasang sesuai ketentuan organisasi.
5. Peci GMNI
Peci GMNI berwarna HITAM dengan Strip merah di tengahnya, tutup atas juga berwarna merah, pada bagian depan sebelah kiri dipasang lencana (pin) GMNI.
6. Mars GMNI
Mars GMNI adalah modifikasi dari lagu "Marhaen Bersatu", dengan syair yang disesuaikan dengan identitas GMNI. Syair lagu tersebut adalah sebagai berikut:
Mahasiswa Indonesia Bersatulah Segera
Di dalam satu barisan anti kemiskinan
Dalam satu barisan serasa sama bahagia
Berjuang secara dinamis
di dalam Front Marhaenis
Reff.
Bersama buruh tani, bersama GMNI
Abdi rakyat sejati Bersatulah segera
Mahasiswa Indonesia.
7. Hymne GMNI
lagu dan lirik : Eros Djarot
Kami pemuda Indonesia, putra-putri sang fajar
Merah warna darahku, putih warna tulangku
bersih jernih jiwa kita
Kami mahasiswa Indonesia, cinta rakyat merdeka
siap rela berkorban sepenuh jiwa raga
demi nusa dan bangsa
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia
Pejuang Pemikir yang tetap setia
Mengawal Pancasila hingga akhir hayatnya
GMNI.., GMNI.., Jaya...!
8. Motto GMNI
Motto GMNI adalah
" PEJUANG PEMIKIR-PEMIKIR PEJUANG ",
Motto tersebut mengandung makna:
• PEJUANG PEMIKIR berarti setiap anggota GMNI adalah Pejuang Bangsa yang bercita-cita luhur yakni membangun masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, di dalam suatu tatanan dunia yang tertib, damai dan berkeadilan sosial.
• PEMIKIR PEJUANG berarti setiap kader GMNI adalah cendekiawan yang berjuang, atau Patriot Bangsa yang memiliki kemampuan penalaran yang tinggi, serta menguasai ilmu pengetahuan dan mau serta mampu menggunakan berbagai dimensi keilmuannya sebagai alat perjuangan menuju cita-cita.
Dengan demikian, secara positip dan tegas motto ini mengandung makna bahwa setiap anggota GMNI adalah Pejuang, yang bukan berjuang asal-asalan, tetapi pejuang yang sadar akan apa yang diperjuangkannya, dan memiliki landasan konsepsi perjuangan yang jelas dan rasional.
TUJUAN PERJUANGAN GMNI
Secara singkat tujuan perjuangan GMNI dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. GMNI bertujuan mewujudkan Masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila yang sejati sebagaimana diuraikan oleh Bung karno, Penggali Pancasila, sebab GMNI berkeyakinan hanya di dalam tatanan masyarakat seperti ini, Rakyat Indonesia dapat diselamatkan dari belenggu kemiskinan, kebodohan, kemelaratan, keterbelakangan, dan berbagai bentuk penindasan lainnya.
2. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka GMNI bertujuan mendidik Kader-Kader bangsa, yang akan menjadi Tenaga Pelopor dalam perjuangan Rakyat Indonesia.
APLIKASI PENDIDIKAN KADER GMNI
1. Kader GMNI dididik dan dibina agar memiliki watak yang mantap, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan menjadi Pribadi yang ulet, tanggap, tanggon, dan trengginas,
2. Kader GMNI dididik dan dibina agar memiliki wawasan Patriotisme yang mantap, serta wawasan kebangsaan yang kuat, dan dengan semangat membara senantiasa siap sedia mempertahankan Pancasila, UUD 1945 serta keutuhan Negara Republik Indonesia dari berbagai ancaman Imperialisme-Kolonialisme, Kapitalisme-Separatisme.
3. Kader GMNI dididik dan dibina agar memiliki wawasan Ideologi yang dalam dan senantiasa siap berada didepan barisan Perjuangan Rakyat Indonesia, dalam menentang berbagai bentuk penindasan Kapitalisme, Feodalisme, dan Militerisme.
4. Kader GMNI dididik dan dibina agar memiliki wawasan akademis yang mendalam, sehingga mampu menyerap berbagai disiplin ilmu pengetahuan, dan mampu mengamalkannya bagi kepentingan bangsa, negara serta umat manusia.
JUNI 2009
PEJUANG PEMIKIR-PEMIKIR PEJUANG
SEJARAH SINGKAT
GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA (GMNI)
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, atau disingkat GMNI, lahir sebagai hasil proses peleburan 3 (tiga) organisasi mahasiswa yang berazaskan Marhaenisme Ajaran Bung Karno. Ketiga organisasi itu ialah:
1. GERAKAN MAHASISWA MARHAENIS, berpusat di Jogjakarta
2. GERAKAN MAHASISWA MERDEKA, berpusat di Surabaya
3. GERAKAN MAHASISWA DEMOKRAT INDONESIA, berpusat di Jakarta.
Proses peleburan ketiga organisasi mahasiswa mulai tampak, ketika pada awal bulan September 1953, Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia (GMDI) melakukan pergantian pengurus, yakni dari Dewan Pengurus lama yang dipimpin Drs. Sjarief kepada Dewan Pengurus baru yang diketuai oleh S.M. Hadiprabowo.
Dalam satu rapat pengurus GMDI yang diselenggarakan di Gedung Proklamasi, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, tercetus keinginan untuk mempersatukan ketiga organisasi yang seazas itu dalam satu wadah. Keinginan ini kemudian disampaikan kepada pimpinan kedua organisasi yang lain, dan ternyata mendapat sambutan positip.
Setelah melalui serangkaian pertemuan penjajagan, maka pada Rapat Bersama antar ketiga Pimpinan Organisasi Mahasiswa tadi, yang diselenggarakan di rumah dinas Walikota Jakarta Raya (Soediro), di Jalan Taman Suropati, akhirnya dicapai sejumlah kesepakatan antara lain:
1. Setuju untuk melakukan fusi
2. Wadah bersama hasil peleburan tiga organisasi bernama "Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia " (GMNI).
3. Azas organisasi adalah: MARHAENISME ajaran Bung Karno.
4. Sepakat mengadakan Kongres I GMNI di Surabaya, dalam jangka waktu enam bulan setelah pertemuan ini.
Para pimpinan tiga organisasi yang hadir dalam pertemuan ini antara lain:
1. Dari Gerakan Mahasiswa Merdeka:
- SLAMET DJAJAWIDJAJA
- SLAMET RAHARDJO
- HERUMAN
2. Dari Gerakan Mahasiswa Marhaenis:
- WAHYU WIDODO
- SUBAGIO MASRUKIN
- SRI SUMANTRI MARTOSUWIGNYO
3. Dari Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia:
- S.M. HADIPRABOWO
- DJAWADI HADIPRADOKO
- SULOMO
PENTING: Baca Pidato SM. Hadiprabowo di Kongres V Salatiga 1969
Hasil kesepakatan tersebut akhirnya terwujud.
Dengan direstui Presiden Sukarno, pada tanggal 22 Maret 1954, dilangsungkan KONGRES I GMNI di Surabaya. Momentum ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi GMNI (Dies Natalis) yang diperingati hingga sekarang. Adapun yang menjadi materi pokok dalam Kongres I ini, selain membahas hasil-hasil kesepakatan antar tiga pimpinan organisasi yang ber-fusi, juga untuk menetapkan personil pimpinan di tingkat pusat.
Sehubungan dengan banyak persoalan yang sebenarnya belum terselesaikan dalam forum Kongres I, maka dua tahun kemudian (1956), GMNI kembali menyelenggarakan KONGRES II GMNI di Bandung, dengan pokok persoalan di seputar masalah konsolidasi internal organisasi. Sebagai hasil realisasi keputusan Kongres II ini, maka Organisasi cabang GMNI mulai tertata di beberapa kota.
Akibat dari perkembangan yang kian meningkat di sejumlah basis organisasi, tiga tahun setelah Kongres II, GMNI kembali menyelenggarakan KONGRES III GMNI di Malang tahun 1959, yang dihadiri sejumlah Utusan cabang yang dipilih melalui Konperensi Cabang masing-masing. Berawal dari Kongres III ini, GMNI mulai meningkatkan kiprahnya, baik dalam lingkup dunia perguruan tinggi, maupun ditengah-tengah masyarakat.
Dalam kaitan dengan hasil Kongres III ini, masih pada tahun yang sama (1959) GMNI menyelenggarakan Konperensi Besar GMNI di Kaliurang Jogjakarta, dan Presiden Sukarno telah berkenan ikut memberikan Pidato Sambutan yang kemudian dikenal dengan judul "Hilangkan Steriliteit Dalam Gerakan Mahasiswa !".
Untuk lebih memantapkan dinamika kehidupan pergerakan GMNI, maka direncanakan pada tahun 1965 akan diselenggarakan Kongres V GMNI di Jakarta. Namun Kongres V tersebut gagal terlaksana karena gejolak politik nasional yang tidak menentu akibat peristiwa G30S/PKI. Kendati demikian, acara persiapannya sudah sempat direalisiir yakni Konperensi besar GMNI di Pontianak pada tahun 1965. Dalam Konferensi besar ini telah dihasilkan kerangka Program Perjuangan, serta Program Aksi bagi Pengabdian Masyarakat.
Dampak peristiwa G30S/PKI bagi GMNI sangat terasa sekali, sebab setelah peristiwa tersebut, GMNI dihadapkan pada cobaan yang cukup berat. Perpecahan dalam kubu Front Marhaenis ikut melanda GMNI, sehingga secara nasional GMNI jadi lumpuh sama sekali. Di tengah hantaman gelombang percaturan politik nasional yang menghempas keras, GMNI mencoba untuk bangkit kembali melakukan konsolidasi. Terlaksana KONGRES V GMNI di Salatiga tahun 1969 (yang seharusnya di Jakarta tetapi gagal dilaksanakan). Namun Kongres V ini tetap belum bisa menolong stagnasi organisasi yang begitu parah.
Namun demikian kondisi ini tampaknya telah membangkitkan kesadaran kesadaran baru dikalangan warga GMNI, yakni kesadaran untuk tetap bergerak pada kekuatan diri sendiri, maka mulai 1969, thema "Independensi GMNI" kembali menguasai lam pikiran para aktivis khususnya yang berada di Jakarta dan Jogjakarta. Tuntutan Independensi ini mendapat reaksi keras, baik dari kalangan Pimpinan Pusat GMNI maupun dari PNI/Front Marhaenis. Tuntutan independensi ini sebenarnya merupakan upaya GMNI untuk kembali ke "Khittah" dan "Fitrah" nya yang sejati. Sebab sejak awal GMNI sudah independen. Tuntutan ini sesungguhnya sangat beralasan dan merupakan langkah antisipasi, sebab tidak lama kemudian terjadi restrukturisasi yang menyebabkan PNI/FM berfusi kedalam PDI.
Setelah gejolak politik reda GMNI kembali memanfaatkan momentum tersebut untuk membangun kembali organisasinya. Dilaksanakan KONGRES VI GMNI di Ragunan-Jakarta tahun 1976, dengan thema pokok: "Pengukuhan Independensi GMNI serta Konsolidasi Organisasi". Hal lain yang patut dicatat dalam Kongres VI ini adalah penegasan kembali tentang Azas Marhaenisme yang tidak boleh dicabut oleh lembaga apapun juga, serta perubahan model kepemimpinan kearah kepemimpinan kolektif dalam bentuk lembaga Presidium.
Selain itu, Kongres VI mempunyai arti tersendiri bagi GMNI, sebab mulai saat itu telah terjadi regenerasi dalam keanggotaan GMNI, yang ditandai dengan munculnya sejumlah pimpinan basis dan cabang dari kalangan mahasiswa muda yang tidak terkait sama sekali dengan konflik internal PNI/FM di masa lalu.
Mengingat persoalan konsolidasi meliputi berbagai aspek, maka masalah yang sama dibahas pula dalam KONGRES VII GMNI di Medan tahun 1979. dalam Kongres VII ini kembali ditegaskan bahwa: Azas organisasi tidak boleh diubah, Independensi tetap ditegakkan, dan konsolidasi organisasi harus seimbang dengan konsolidasi ideologi.
Titik cerah bagi GMNI yang mulai bersinar di tahun 1979 ternyata tidak berlangsung lama. Intervensi kekuatan diluar GMNI, yang memang menginginkan GMNI lemah, dengan berpadu bersama 'interest pribadi' segelintir oknum pimpinan GMNI, telah mengundang malapetaka terhadap organisasi mahasiswa ini.
Kongres VIII GMNI yang sedianya akan diselenggarakan di Jogjakarta mengalami kegagalan karena diprotes oleh sejumlah cabang (Jakarta, Medan, Malang, Manado, Bandung, dan lain-lain), karena tercium indikasi kecurangan untuk memenangkan aspirasi pihak luar dalam Kongres VIII itu. tetapi usaha filtrasi dan perlemahan GMNI tetap berlangsung sewaktu KONGRES VIII GMNI di Lembang-Bandung tahun 1982.
Hanya dengan pengawalan ketat dari aparat negara Kongres VIII tersebut bisa berlangsung, dan dimenangkan oleh segelintir oknum pimpinan GMNI tadi, namun dampaknya bagi organisasi sangat besar sekali.
Presidium GMNI hasil Kongres VIII terpecah-belah, dan disusul perpecahan berangkai semua cabang. Program Kaderisasi, regenerasi akhirnya macet total.
KONGRES IX GMNI di Samarinda tahun 1985 gagal menampilkan wajah baru dalam struktur kepemimpinan GMNI, disamping kegagalan dalam proses pembaharuan pemikiran seta operasioniil program.
Perpecahan ini akhirnya menjalar ke berbagai struktur organisasi dan mencuat dalam KONGRES X GMNI di Salatiga tahun 1989, yang diwarnai kericuhan fisik. Dampak dari kegagalan regenerasi dan kaderisasi Kongres X akhirnya hanya menampilkan wajah lama dalam struktur kepemimpinan GMNI.
Dan yang lebih menyedihkan lagi, para oknum pimpinan GMNI di tingkat Pusat terjebak dengan kebiasaan saling "pecat-memecat". Identitas sebagai organisasi perjuangan menjadi luntur, sebab yang lebih menonjol justru perilaku sebagai "birokrat GMNI". untuk mempertahankan status quo, dan sekaligus untuk melestarikan budaya tadi, oknum-oknum pimpinan pusat mulai mengintrodusiir apa yang disebut "Komunitas Baru GMNI" yang ditetapkan melalui deklarasi Jayagiri. Inilah cobaan yang terberat dihadapi GMNI. Sebab organisasi ini tidak hanya terperangkap dalam konflik kepentingan perorangan yang bersifat sesaat, tetapi juga mulai mengalami erosi idealisme, serta kegersangan kreativitas dan inovasi.
Secara nasional formal, kesadaran untuk memperbaiki arah perjuangan tampaknya belum muncul. Pada KONGRES XI GMNI di Malang tahun 1992, kejadian di Salatiga kembali terulang. Sementara suara-suara cabang yang menuntut otonomi semakin nyaring dan meluas.
Kondisi ini kemudian melahirkan format baru dalam tata hubungan antar kader pejuang pemikir-pemikir pejuang yakni: hubungan kejuangan yang bersifat personal-fungsional. Sebab hubungan formal-institusional tidak efektif lagi.
"Perlawanan" cabang-cabang kembali dilakukan di KONGRES XII GMNI di Denpasar Bali tahun 1995, tetapi keberhasilan hanya pada tingkatan materi program. Dimana kemudian dikenal dan dimunculkan kembali di AD/ART mengenai Azas perjuangan "Sosialis Religius - Progressif Revolusioner" yang membuat banyak pihak terkejut-kejut, tetapi 'kekalahan' terjadi pada pertempuran perebutan pimpinan nasional yang kembali di-warnai oleh intervesi 'orang-orang lama' GMNI. Isu money-politics sangat kental di forum Kongres XII ini.
Disaat cabang-cabang kembali mulai menata diri, perpecahan kembali melanda Presidium hasil Kongres XII Bali, saling boikot dan intrik menjadi makanan utama sehari hari di sekretariat pusat GMNI Wisma Marinda. Pada saat itu cabang-cabang tidak ambil pusing dengan tetap bergerak menguatkan garis ideologi yang mulai kurang tersentuh. Dimulai dengan dialog dan pembongkaran wacana mengenai Marhaenisme di Jogja dan kemudian dilanjutkan di Surabaya 14-17 Juli 1998. cabang-cabang semakin memantapkan hubungan dengan tidak menghiraukan perpecahan yang terjadi di tingkat pusat.
Ketika terjadi pergerakan massiv mulai Mei 1998, cabang-cabang dapat 'berbicara banyak' di tingkat kota masing-masing, tetapi tidak begitu halnya dengan GMNI di tingkat nasional. Perubahan politik di tingkat nasional rupanya semakin 'tidak menyadarkan pimpinan GMNI'. Perpecahan ini memuncak saat beberapa oknum pimpinan GMNI ikut mendaftarkan diri menjadi calon legislatif PDI Perjuangan. Cabang-cabang bereaksi keras dengan menarik dukungannya terhadap pimpinan nasional saat itu.
Kongres XIII GMNI yang sedianya dilaksanakan di Kupang-NTT mendapatkan protes keras dari cabang-cabang karena prosesnya yang tidak konstitusionil dan penuh rekayasa; termasuk perilaku 'saling membubarkan' efek dari perpecahan Presidium. Akhirnya Kongres tersebut terselenggara dengan diboikot 19 cabang antara lain Medan, Bandung, Jogjakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Jember, Malang, Denpasar, Pontianak, Manado dll.
Perlawanan cabang-cabang atas tegaknya konstitusi GMNI terus diusahakan, lewat pertemuan-pertemuan antar Pimpinan Cabang di Malang, Surabaya, Jember, Semarang hingga Lokakarya Nasional GMNI di Solo Januari 2000 yang menghasilkan draft pemikiran pembaharuan GMNI untuk kembali ke azas Marhaenisme dan mencanangkan diselenggarakannya Kongres Luar Biasa (KLB) GMNI untuk menjembatani segala perpecahan yang ada.
KLB GMNI, Februari 2001, dipenuhi nuansa / keinginan untuk pembaharuan oleh DPC-DPC. Semangat itu terakumulasi lewat rekomendasi untuk "rekonsiliasi" dengan kelompok "kupang". Pelan tapi pasti, semoga GMNI tetap jaya....!!
Hubungan interpersonal antar aktivis GMNI di cabang-cabang semakin erat dan muncul kerinduan kembali akan "Nilai Dasar Perjuangan" yang selama ini ditinggalkan.
Sanggupkah GMNI meraih kembali momentum yang jaya gemilang..?. Perjuangan kita persama yang akan menjawabnya. Marilah kita belajar dari Pengalaman beberapa kali terselenggaranya Kongres GMNI sampai saat ini… Merdeka…!
BAB II
AZAS DAN DOKTRIN PERJUANGAN GMNI
Sebagai organisasi Gerakan Perjuangan, GMNI mempunyai Azas dan Doktrin Perjuangan, yang menjadi Landasan serta Penuntun Arah Perjuangan GMNI.
Azas dan Doktrin Perjuangan GMNI adalah:
1. PANCASILA
2. UNDANG-UNDANG DASAR 1945
3. MARHAENISME
4. PANCALOGI GMNI
I. PANCASILA
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Keterangan:
Agar dapat memahami Pancasila secara benar dan mendalam setiap anggota wajib membaca:
• "LAHIRNYA PANCASILA", Pidato Ir. Sukarno pada tanggal 1 Juni 1945
• "PANCASILA DASAR NEGARA", Kuliah Pancasila yang disampaikan oleh Bung Karno di Istana Negara.
• "MEMBANGUN DUNIA BARU", Pidato Presiden Sukarno didepan sidang Majelis Umum PBB tahun 1960.
•
II. UNDANG UNDANG DASAR 1945
“ Sesuai dengan Pembukaan UUD 1945”
Dari Pembukaan UUD 1945, ada beberapa hal yang patut dipahami oleh setiap Anggota GMNI, antara lain:
1. Pokok perjuangan bangsa Indonesia adalah menghapuskan segala bentuk penindasan dan ketidakadilan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
2. Perjuangan tersebut sesungguhnya merubakan berkat dari Allah Yang Maha Kuasa.
3. Negara berfungsi sebagai:
>> Perumahan' bangsa yang memberikan perlindungan bagi seluruh rakyat dan seluruh wilayah Republik Indonesia.
>> Alat perjuangan untuk menuju terwujudnya cita-cita nasional yakni: Masyarakat adil dan makmur di tengah dunia yang tanpa penindasan.
III. MARHAENISME
>> KETUHANAN YANG MAHA ESA <<
>> SOSIO NASIONALISME <<
>> SOSIO DEMOKRASI <<
>> BERJUANG UNTUK RAKYAT <<
>> BERJUANG BERSAMA-SAMA RAKYAT <<
Pidato Bung Karno didepan Konferensi PARTINDO, Mataram 1933
TENTANG MARHAEN, MARHAENIS, MARHAENISME
1. Marhaenisme yaitu Sosio Nasionalisme dan Sosio Demokrasi
2. Marhaen yaitu kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain.
3. Partindo memakai perkataan Marhaen, dan tidak proletar oleh karena perkataan proletar sudah termaktub didalam perkataan Marhaen, dan oleh karena perkataan proletar itu bisa diartikan bahwa kaum tani dan kaum lain-lain kaum melarat tidak termaktub didalamnya.
4. Karena Partindo berkeyakinan bahwa didalam perjoangan, kaum melarat Indonesia lain-lain itu yang harus menjadi elemen-elemennya (bagian-bagiannya), maka Partindo memakai perkataan Marhaen itu.
5. Di dalam perjuangan kaum Marhaen, maka Partindo berkeyakinan bahwa kaum Proletar mengambil bagian yang paling besar sekali.
6. Marhaenisme adalah Azas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan negeri yang dalam segala halnya menyelamatkan kaum Marhaen.
7. Marhaenisme adalah pula Cara Perjoangan untuk mencapai susunan negeri yang demikian itu, yang oleh karenanya harus suatu cara perjoangan yang Revolusioner.
8. Jadi Marhaenisme adalah: cara Perjoangan dan Azas yang ditujukan terhadap hilangnya tiap-tiap Kapitalisme dan Imperialisme.
9. Marhaenisme adalah tiap-tiap orang bangsa Indonesia yang menjalankan Marhaenisme.
Pidato Bung Karno didepan Konferensi Besar GMNI, Kaliurang 1959
HILANGKAN STERILITEIT DALAM GERAKAN MAHASISWA
"Bagi saya Azas Marhaenisme adalah Azas yang paling cocok untuk Gerakan Rakyat Indonesia".
Rumusannya adalah:
1. Marhaenisme adalah Azas yang menghendaki susunan masyarakat yang dalam segala halnya menyelamatkan kaum Marhaen.
2. Marhaenisme cara perjuangan yang revolusioner sesuai dengan watak kaum marhaen pada umumnya.
3. Marhaenisme adalah, dus azas dan cara perjuangan "tegelijk" menuju kepada hilangnya Kapitalisme, Imperialisme dan Kolonialisme.
Secara positif, maka Marhaenisme saya namakan juga SOSIO NASIONALISME dan SOSIO DEMOKRASI; karena Nasionalismenya Kaum Marhaen adalah Nasionalisme yang Sosial Bewust, dan karenanya Demokrasinya Kaum Marhaen adalah Demokrasi yang Sosial Bewust-pula.
Dan Siapakah yang saya namakan Kaum Marhaen itu ??
Yang saya namakan Kaum Marhaen itu adalah : Setiap Rakyat Indonesia yang melarat atau lebih tepat, yang dimelaratkan oleh Sistem Kapitalisme, Imperialisme, dan Kolonialisme.
Kaum Marhaen terdiri dari tiga unsur
Pertama : Unsur Kaum Proletar (Buruh)
Kedua : Unsur kaum tani melarat Indonesia
Ketiga : Kaum Melarat Indonesia yang lain-lain.
Dan Siapakah yang saya maksud dengan kaum Marhaenis ??
kaum Marhaenis adalah "setiap pejuang dan setiap patriot bangsa":
-. Yang mengorganisir berjuta-juta kaum Marhaen itu dan
-. Yang bersama-sama dengan tenaga massa Marhaen itu hendak menumbangkan Sistem kapitalisme, Imperialisme, dan Kolonialisme, dan
-. Yang bersama-sama dengan massa marhaen membangun negara dan masyarakat yang kuat, bahagia sentosa, adil dan makmur.
Pokoknya ialah, bahwa Marhaenis adalah setiap orang yang menjalankan Marhaenisme yang saya jelaskan tadi.
Cam-kan benar-benar !! Setiap kaum Marhaenis berjuang untuk kepentingan kaum Marhaen dan bersama-sama kaum Marhaen.
IV. PANCALOGI GMNI
Pertama : I D E O L O G I
Kedua : R E V O L U S I
Ketiga : O R G A N I S A S I
Keempat : S T U D I
Kelima : I N T E G R A S I
Penjelasan:
1. Kelima prinsip diatas harus menjadi jatidiri bagi perjuangan setiap anggota GMNI
2. Ideologi artinya, perjuangan setiap anggota GMNI harus dilandaskan pada Ideologi yang menjadi Azas dan Doktrin Perjuangan GMNI, sebab ideologi merupakan acuan pokok dalam penentuan format dan pola operasional pergerakan.
3. Revolusi artinya, perjuangan setiap anggota GMNI harus berorientasi pada perombakan susunan masyarakat secara revolusioner. Revolusi bukan berarti pertumpahan darah, tetapi dalam pengertian pemikiran.
4. Organisasi artinya, perjuangan GMNI adalah perjuangan yang terorganisir, sesuai dengan azas dan doktrin perjuangan GMNI.
5. Studi artinya, sebagai organisasi mahasiswa, maka titik berat perjuangan GMNI adalah pada aspek studi. Amanat Penderitaan Rakyat harus dijadikan titik sentral dalam pendorong upaya studi ini.
6. Integrasi artinya, Perjuangan GMNI senantiasa tidak terlepas dari Perjuangan Rakyat Semesta. Setiap warga GMNI harus selalu berada ditengah-tengah Rakyat yang berjuang.
BAB III
GMNI SEBAGAI ORGANISASI PERJUANGAN
GMNI lahir dengan identitasnya yang hakiki sebagai "ORGANISASI PERJUANGAN" yang berlandaskan "Ajaran Sukarno". Untuk itu ada beberapa prinsip perjuangan yang harus tetap melekat dalam diri GMNI dan menjadi watak dasar perjuangan GMNI yakni:
1. GMNI berjuang untuk Rakyat.
2. GMNI berjuang bersama-sama Rakyat.
A. Makna "GERAKAN" Dalam Nama GMNI
GMNI adalah suatu organisasi Gerakan, atau dalam bahasa inggris disebut 'Movement'. Karena Gerakan GMNI dilakukan oleh sekelompok manusia yang berstatus 'Mahasiswa', maka GMNI disebut pula sebagai "Student Movement".
Adapun yang dimaksud dengan "Gerakan" adalah: Suatu usaha atau tindakan yang dilakukan dengan sadar dan sengaja oleh sekelompok manusia, dengan menggunakan sumua potensi yang ia miliki (mis: sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dll), atau yang ada di dalam masyarakat dengan tujuan untuk melakukan pembaruan-pembaruan terhadap sistem masyarakat, agar terwujud suatu tatanan masyarakat yang dicita-citakan bersama.
B.GMNI adalah Organisasi Perjuangan dan Perjuangan Terorganisir
GMNI merupakan Organisasi Perjuangan dan Gerakan Perjuangan Terorganisir. Artinya, gerakan Perjuangan harus menjadi Jiwa, Semangat atau Roh GMNI. Dan segala tindak perjuangan GMNI harus terorganisir yakni senantiasa mengacu pada Doktrin Perjuangan yang menjadi azas GMNI.
C. Tujuan Perjuangan GMNI
Sebagai Organisasi gerakan Perjuangan, yang menjadi Tujuan Perjuangan GMNI adalah: Mendidik kader bangsa mewujudkan masyarakat Pancasila sesuai dengan amanat UUD 1945 yang sejati. Sebab dalam keyakinan GMNI, hanya dalam masyarakat Pancasila yang sejati, Kaum Marhaen dapat diselamatkan dari bencana kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dan terhindar dari berbagai bentuk penindasan.
D. GMNI Bersifat Independen
GMNI adalah organisasi yang independen dan berwatak kerakyatan. Artinya, GMNI tidak beraffiliasi pada kekuatan politik manapun, dan berdaulat penuhdengan prinsip percaya [ada kekuatan diri sendiri.
Independensi bukan berarti netral, sebab GMNI senantiasa proaktif dalam perjuangan sesuai dengan Azas dan Doktrin Perjuangan yang ia jalankan. Walaupun demikian, GMNI tidak independen dari Kaum Marhaen serta Kepentingan Kaum Marhaen.
E. Makna "MAHASISWA" Dalam GMNI
GMNI adalah organisasi Mahasiswa. Sebagai konsekwensi dari sifat ini, maka yang boleh menjadi anggota GMNI hanya mereka yang berstatus mahasiswa. Namun demikian tidak semua mahasiswa dapat menjadi anggota GMNI, sebab yang dapat menjadi anggota GMNI hanya mereka yang mau berjuang, atau Insan Mahasiswa Pejuang. Tentu yang dimaksud dengan Mahasiswa Pejuang disini adalah mereka yang berjuang atas dasar Ajaran Sukarno.
F. Makna "NASIONAL" Dalam GMNI
GMNI adalah organisasi yang berlingkup nasional. Artinya bukan organisasi kedaerahan, keagamaan, kesukuan, atau golongan yang bersifat terbatas. Makna Nasional juga mengandung pengertian bahwa yang diperjuangkan oleh GMNI adalah kepentingan Nasional. Sebagai organisasi yang berwatak Nasionalis, maka Nasionalisme GMNI jelas adalah Nasionalisme Pancasila.
G. GMNI Adalah Organisasi Kader Sekaligus Organisasi Massa
GMNI adalah organisasi Kader sekaligus organisasi Massa, artinya GMNI merupakan wadah pembinaan kader-kader pejuang bangsa; dan dalam perjuangannya itu, kader GMNI senantiasa menyatu dengan berjuta-juta massa Marhaen. GMNI tidak berjuang sendirian, tetapi harus bersama-sama dan untuk seluruh rakyat, sebab Doktrin Perjuangan GMNI menggariskan demikian.
BAB IV
ATRIBUT ORGANISASI GMNI,
TUJUAN APLIKASI DAN PENDIDIKAN KADER GmnI
Sebagai satu organisasi GMNI mempunyai sejumlah Atribut Organisasi, yang berfungsi sebagai:
1. Alat untuk membangkitkan semangat Korps dan sekaligus sebagai alat untuk menggambarkan Nilai-Nilai Dasar yang terkandung dalam Doktrin Perjuangan GMNI.
2. Sarana untuk mengenalkan diri kepada pihak lain.
Atribut GMNI terdiri dari:
1. Panji/bendera GMNI
2. Lambang/Simbol GMNI
3. Logo GMNI
4. Jaket GMNI
5. Peci GMNI
6. Mars GMNI
7. Hymne GMNI
8. Motto GMNI
1. Panji/bendera GMNI
Panji/Bendera GMNI berbentuk empat persegi, dengan komposisi warna MERAH - PUTIH - MERAH, tegak vertikal, perbandingan tiap warna masing-masing 1/3 (satu per tiga) dari panjang Panji/Bendera.
Lebar Bendera 2/3 (dua per tiga) dari ukuran Panjang. Pada dasar Putih, terdapat lukisan lambang GMNI (Bintang Merah beserta Kepala Banteng Hitam), serta dibawah bintang tertulis logo GMNI.
Khusus Panji:
Panjang 100 cm, Lebar 90 cm, pada tiap pinggir dilengkapi dengan rumbai berwarna Kuning Emas, panjang rumbai 10 cm. Selain itu Panji dilengkapi dengan tongkat Panji dan Tali hias warna Kuning. Panjang tongkat 2 meter dengan warna kayu asli. Lengkap tentang fisik Panji/bendera lihat peraturan organisasi mengenai Panji/Bendera.
2. Lambang/Simbol GMNI
Lambang GMNI berbentuk Perisai bersudut enam, atau tiga sudut diatas, dan tiga sudut dibagian bawah. Komposisi warna dua bidang Merah mengapit bidang Putih, tegak vertikal. Di tengah perisai terdapat lukisan Bintang Merah dengan Kepala Banteng Hitam sebagai pusat. Dibawah Bintang terdapat logo GMNI.
Makna yang terkandung:
• Tiga Sudut atas Perisai melambangkan Marhaenisme
• Tiga Sudut bawah Perisai melambangkang Tri Dharma Perguruan Tinggi
• Warna Merah berarti Berani, warna Putih berarti suci. Makna komposisi: Keberanian dalam menegakkan Kesucian.
• Bintang melambangkan ketinggian cita-cita, serta keluhuran budi.
• Kepala Banteng melambangkan Potensi rakyat Marhaen. Warna Hitam melambangkan keteguhan pendirian dalam mengemban tugas perjuangan.
3. Logo GMNI
GmnI
Logo GMNI berbentuk tulisan yang terdiri dari empat huruf yaitu huruf "G", "M", "N", "I" dengan komposisi sebagai berikut:
• Huruf "G" yaitu kependekan dari kata "GERAKAN" ditulis dalam huruf Kapital (huruf besar)
• Huruf "M" yaitu kependekan dari kata "MAHASISWA" ditulis dalam huruf kecil.
• Huruf "N" yaitu kependekan dari kata "NASIONAL" ditulis dalam huruf kecil.
• Huruf "I" yaitu kependekan dari kata "INDONESIA" ditulis dalam huruf Kapital (huruf besar)
Penulisan tadi mengandung makna bahwa, Aspek GERAKAN dan INDONESIA merupakan elemen pokok yang harus ditonjolkan oleh organisasi GMNI, sementara aspek MAHASISWA dan NASIONAL hanya menunjukkan predikat yang mempertegas keberadaan organisasi GMNI.
4. Jaket GMNI
Soekarno look
Jaket GMNI berwarna MERAH DARAH, dengan model "Sukarno Look". Pada kantong kiri depan terpasang Lambang GMNI, dan diatas kantong kanan depan terpasang identitas lokasi. Kelengkapan lainnya seperti tanda jabatan, dan lain-lain dipasang sesuai ketentuan organisasi.
5. Peci GMNI
Peci GMNI berwarna HITAM dengan Strip merah di tengahnya, tutup atas juga berwarna merah, pada bagian depan sebelah kiri dipasang lencana (pin) GMNI.
6. Mars GMNI
Mars GMNI adalah modifikasi dari lagu "Marhaen Bersatu", dengan syair yang disesuaikan dengan identitas GMNI. Syair lagu tersebut adalah sebagai berikut:
Mahasiswa Indonesia Bersatulah Segera
Di dalam satu barisan anti kemiskinan
Dalam satu barisan serasa sama bahagia
Berjuang secara dinamis
di dalam Front Marhaenis
Reff.
Bersama buruh tani, bersama GMNI
Abdi rakyat sejati Bersatulah segera
Mahasiswa Indonesia.
7. Hymne GMNI
lagu dan lirik : Eros Djarot
Kami pemuda Indonesia, putra-putri sang fajar
Merah warna darahku, putih warna tulangku
bersih jernih jiwa kita
Kami mahasiswa Indonesia, cinta rakyat merdeka
siap rela berkorban sepenuh jiwa raga
demi nusa dan bangsa
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia
Pejuang Pemikir yang tetap setia
Mengawal Pancasila hingga akhir hayatnya
GMNI.., GMNI.., Jaya...!
8. Motto GMNI
Motto GMNI adalah
" PEJUANG PEMIKIR-PEMIKIR PEJUANG ",
Motto tersebut mengandung makna:
• PEJUANG PEMIKIR berarti setiap anggota GMNI adalah Pejuang Bangsa yang bercita-cita luhur yakni membangun masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, di dalam suatu tatanan dunia yang tertib, damai dan berkeadilan sosial.
• PEMIKIR PEJUANG berarti setiap kader GMNI adalah cendekiawan yang berjuang, atau Patriot Bangsa yang memiliki kemampuan penalaran yang tinggi, serta menguasai ilmu pengetahuan dan mau serta mampu menggunakan berbagai dimensi keilmuannya sebagai alat perjuangan menuju cita-cita.
Dengan demikian, secara positip dan tegas motto ini mengandung makna bahwa setiap anggota GMNI adalah Pejuang, yang bukan berjuang asal-asalan, tetapi pejuang yang sadar akan apa yang diperjuangkannya, dan memiliki landasan konsepsi perjuangan yang jelas dan rasional.
TUJUAN PERJUANGAN GMNI
Secara singkat tujuan perjuangan GMNI dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. GMNI bertujuan mewujudkan Masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila yang sejati sebagaimana diuraikan oleh Bung karno, Penggali Pancasila, sebab GMNI berkeyakinan hanya di dalam tatanan masyarakat seperti ini, Rakyat Indonesia dapat diselamatkan dari belenggu kemiskinan, kebodohan, kemelaratan, keterbelakangan, dan berbagai bentuk penindasan lainnya.
2. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka GMNI bertujuan mendidik Kader-Kader bangsa, yang akan menjadi Tenaga Pelopor dalam perjuangan Rakyat Indonesia.
APLIKASI PENDIDIKAN KADER GMNI
1. Kader GMNI dididik dan dibina agar memiliki watak yang mantap, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan menjadi Pribadi yang ulet, tanggap, tanggon, dan trengginas,
2. Kader GMNI dididik dan dibina agar memiliki wawasan Patriotisme yang mantap, serta wawasan kebangsaan yang kuat, dan dengan semangat membara senantiasa siap sedia mempertahankan Pancasila, UUD 1945 serta keutuhan Negara Republik Indonesia dari berbagai ancaman Imperialisme-Kolonialisme, Kapitalisme-Separatisme.
3. Kader GMNI dididik dan dibina agar memiliki wawasan Ideologi yang dalam dan senantiasa siap berada didepan barisan Perjuangan Rakyat Indonesia, dalam menentang berbagai bentuk penindasan Kapitalisme, Feodalisme, dan Militerisme.
4. Kader GMNI dididik dan dibina agar memiliki wawasan akademis yang mendalam, sehingga mampu menyerap berbagai disiplin ilmu pengetahuan, dan mampu mengamalkannya bagi kepentingan bangsa, negara serta umat manusia.
JUNI 2009
PEJUANG PEMIKIR-PEMIKIR PEJUANG
Langganan:
Postingan (Atom)